Jumat, 30 Juli 2010

Serius dalam Khutbah dan Tidak Bergurau

Oleh: Abduh Zulfidar Akaha

Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ .
“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah, kedua matanya merah, suaranya meninggi, dan semangatnya menyala-nyala, seakan-akan beliau sedang memberi komando pada pasukan perang.”[1]

Demikianlah kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam khutbah Jum’atnya. Beliau serius dan tidak bergurau. Dikarenakan seriusnya ekspresi beliau dalam khutbahnya, Jabir menggambarkan bahwa mata beliau sampai merah, suaranya keras meninggi, penuh semangat yang menyala-nyala, dan seakan-akan beliau sedang membakar semangat para prajuritnya yang berada dalam kancah peperangan.

Berbeda dengan yang kita saksikan saat ini. Betapa masih ada sebagian khatib Jum’at yang terkadang bergurau dalam khutbahnya. Padahal, tidak pada tempatnya dia melemparkan canda dalam khutbah Jum’at. Diperlukan ketegasan, keseriusan, khidmat, dan kekhusyu’an dalam suasana khutbah Jum’at. Karena selain Nabi mencontohkan demikian, canda dan tawa tidak bisa mendekatkan seseorang kepada Tuhannya, dan tidak mungkin gurauan dapat membuat seseorang dekat dengan Tuhannya. Lagi pula, melemparkan joke dalam khutbah Jum’at juga akan membuat khutbah bertele-tele dan memakan waktu. Sehingga sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang selalu meringkaskan khutbahnya tidak dapat terpenuhi.

Bahkan sejatinya, Rasul tidak hanya serius saat khutbah Jum’at saja. Melainkan setiap kali memberikan nasehatnya, beliau selalu serius dan tidak bergurau.[2] Tidak ada tawa dan canda di sana. Bahkan tak jarang apa yang beliau sampaikan membuat para sahabat menangis dan bergetar hatinya. Sebagaimana yang diceritakan Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘Anhu,
وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ .

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memberi nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang sangat mengena. Sehingga hati ini menjadi bergetar dan mata meneteskan air matanya. Kami berkata; ‘Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan’.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)[3]

Sungguh menyedihkan jika agama ini menjadi bahan lelucon dan tertawaan dalam berbagai majelis taklim dan pengajian. Bahkan ironis, jika umat Islam lebih senang mendengarkan ceramah dari para pelawak daripada muballigh yang berkompeten. Meskipun sebenarnya muballigh dan dai yang lebih banyak melawak dalam ceramahnya daripada mengingatkan orang agar selalu ingat kepada Tuhannya, juga tak ada bedanya dengan pelawak itu sendiri. Sungguh jauh apa yang mereka lakukan dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasul membuat kaum muslimin menangis dengan nasehatnya, sementara mereka membuat hadirin tertawa terpingkal-pingkal dengan joke-jokenya.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata,
خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَةً مَا سَمِعْتُ مِثْلَهَا قَطُّ قَالَ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالَ فَغَطَّى أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُجُوهَهُمْ لَهُمْ خَنِينٌ .
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkhutbah yang isinya tidak pernah aku mendengar seperti itu sebelumnya. Hingga beliau berkata; ‘Sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis’. Maka, para sahabat pun menutupi wajah mereka seraya menangis tersedu-sedu.” (Muttafaq Alaih)[4]

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Hendaknya seseorang bersungguh-sungguh dan serius ketika menyampaikan nasehat. Dia mesti menggunakan kalimat-kalimat yang bagus dan memakai kata-kata dengan gaya bahasa yang indah didengar di telinga. Dengan demikian, apa yang disampai-kannya akan mudah diterima oleh yang mendengar dan lebih mengena ke dalam hati.”[5]

Dalam hal ini, cukuplah kami kutipkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ .
“Apakah belum tiba saatnya bagi orang-orang beriman agar hati mereka khusyu’ untuk mengingat Allah dan apa yang Dia turunkan dari kebenaran?” (Al-Hadid: 16)

* * * * *


[1] HR. Muslim (2042), Ibnu Majah (44), dan Ibnu Hibban (10).
[2] Meski bukan berarti sama sekali tidak boleh melucu dalam berceramah, selama itu dalam batas yang wajar dan tidak berlebihan. Namun jika dalam suatu ceramah yang ada hanya lelucon dan gurauan, manfaat apa yang akan diambil oleh pendengar?
[3]Lihat; Sunan Abi Dawud, Kitab As-Sunnah, Bab Luzum As-Sunnah, hadits nomor 6407; dan Sunan At-Tirmidzi, Kitab Al-’Ilm, Bab Ma Ja`a fi Al-Akhdz fi As-Sunnah, hadits nomor 2678.
Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (37).
[4] Shahih Al-Bukhari, Kitab At-Tafsir, Bab La Tas’alu ‘an Asy-ya’, hadits nomor 4255; dan Shahih Muslim, Kitab Fadha’il An-Nabiy, Bab Tawqirih Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hadits nomor 6268.
[5] Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam 2/36, dengan sedikit perubahan redaksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar