Kamis, 22 Juli 2010

Tidak Bohong dalam Bergurau

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwasanya para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا .
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau suka mencandai kami.”
Beliau bersabda,
إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا .
‘Sesungguhnya aku tidak berkata kecuali yang benar’.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)[1]

Nabi adalah seorang luwes dan tidak kaku dalam pergaulannya. Beliau sangat akrab bersama para sahabat dan tak jarang beliau mengajak mereka bergurau. Dan terkadang para sahabat yang mencandai beliau. Seperti yang dilakukan Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu ‘Anhu yang makan korma ketika matanya sedang sakit. Nabi berkata kepadanya,
تَأْكُلُ تَمْرًا وَبِكَ رَمَدٌ ؟
“Engkau makan korma padahal matamu lagi sakit?”
Kata Shuhaib, “Aku makan dengan bagian tubuh lain yang tidak sakit, wahai Rasulullah.” Maka Nabi pun tersenyum mendengar jawaban cerdas Shuhaib.[2]

Akan tetapi meskipun senang bergurau, apa yang beliau katakan selalu benar. Beliau sama sekali tidak pernah berbohong dalam candanya. Seperti yang beliau katakan kepada seorang perempuan tua, “Perempuan yang tua tidak akan masuk surga.” Maka perempuan tua itu pun menangis. Lalu beliau berkata lagi, “Wahai ibu, sesungguhnya di surga nanti engkau tidak lagi tua. Karena perempuan di sana semuanya perawan.” Dan beliau pun membaca, “Sesungguhnya Kami akan membuat mereka menjadi muda, dan menjadikan mereka sebagai perawan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6)[3]

Pernah suatu hari, ada seorang perempuan bernama Ummu Aiman datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia berkata, “Sesungguhnya suamiku mengundang engkau untuk makan bersama.” Kata Nabi, “Apakah suamimu itu yang di matanya ada putih-putihnya?” Ummu Aiman pun bingung dan mengatakan, bahwa suaminya bukan seperti yang beliau katakan. Namun setelah ia paham apa yang dimaksud Nabi, ia pun tertawa.[4]

Suatu ketika saat sedang dalam perjalanan, ada seorang Badui yang meminta kendaraan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk dia naiki dan mengangkut barang bawaannya. Nabi berkata, “Maukah kamu aku beri anak onta?” Orang Badui itu pun berkata, “Apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta?” Kata Nabi, “Memangnya apa yang dilahirkan onta betina kalau bukan onta juga?”[5]

Demikianlah kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila bergurau. Beliau sama sekali tidak pernah berbohong. Dan sudah seharusnya jika kita juga menghindari bohong, sekalipun dalam bergurau.

* * *

[1] Musnad Ahmad, Kitab Baqi Musnad Al-Muktsirin (8125) dan Sunan At-Tirmidzi, Kitab Ash-Shilah wa Al-Birr (1913). At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan shahih.

[2] Sunan Ibnu Majah, Kitab Ath-Thib (3434). Syaikh Al-Albani mengomentari hadits ini dalam Shahih Sunan Ibni Majah (3443), “Hasan shahih.”

[3] HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syama`il Al-Muhammadiyyah (238). Dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (2987).

[4] Lihat Ihya’ Ulumiddin 3/184.

[5] HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syama`il Al-Muhammadiyyah (236). Dishahihkan Al-Albani dalam Tahqiq Misykat Al-Mashabih (4886).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar