Selasa, 27 Juli 2010

Keutamaan Puasa Nishfu Sya’ban


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha
            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ .
            “Apabila datang malam nishfu[1] Sya’ban, bangunlah pada malamnya dan puasalah pada siangnya. Sesungguhnya Allah turun di dalamnya ketika terbenam matahari di langit bumi, Dia berfirman; ‘Adakah orang yang minta ampun karena dia akan Aku Ampuni? Adakah orang yang minta rezeki karena dia akan Aku beri rezeki? Adakah orang sakit supaya Aku sembuhkan? Adakah orang yang begini dan begini?’ Demikian sehingga terbit fajar.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Ibnu Majah (1378), Al-Fakihi dalam Akhbar Makkah (1773) dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Derajat Hadits: Dha’if Jiddan
            Al-Fatani memasukkan hadits ini dalam Tadzkiratu Al-Maudhu’at.[2]
            Al-Iraqi berkata, “Haditsnya batil, … sanadnya dha’if.”[3]
            Ibnul Jauzi berkata, “Hadits ini tidak shahih.”[4]
            Asy-Syaukani memasukkan hadits ini dalam Al-Fawa`id Al-Majmu’ah fi Al-Ahadits Al-Mau’dhu’ah, nomor 106. Asy-Syaukani berkata, “Disebutkan dalam Al-Mukhtashar, hadits shalat nishfu Sya’ban adalah batil.”
            Al-Albani berkata, “Maudhu’ sanadnya” dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-dha’ifah (2132), dan mengatakannya “Dha’if jiddan atau maudhu’” dalam Dha’if Sunan Ibni Majah (1388).

*   *   *
 

[1] An-Nishfu, artinya separo atau setengah. Malam nishfu Sya’ban adalah malam kelima belas bulan Sya’ban.
[2] Tadzkiratu Al-Maudhu’at/Al-Allamah Muhammad bin Thahir Al-Hindi Al-Fatani/Hlm 45. Program Al-Maktabah Asy-Syamilah.
[3] Takhrij Ahadits Al-Ihya` (630).
[4] Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah fi Al-Ahadits Al-Wahiyah (923).

5 komentar:

  1. ada hadits shahih (atau minimal hasan) gak Ustadz, yg berbicara mengenai fadhilah malam nishfu sya'ban?

    BalasHapus
  2. @ pak anonim
    setau saya, tdk ada hadits ttg keutamaan malam nishfu sya'ban yg sampe pd derajat shahih, pak...

    BalasHapus
  3. aslmualaikum ustadz Abduh.

    saya ingin bertanya tentang puasa sya'ban, saya jadi bingung ikut yang mana, saya ingin mendapat jawaban yang membuat saya bisa mengikuti yang tepat ustadz. begini

    Dari Abi Hurairah ra. dari Nabi SAW beliau bersabda, "Apabila bulan Sya'ban sudah setengahnya, maka janganlah berpuasa hingga Ramadhan." (HR Tirmidzi).

    Tidak boleh berpuasa setelah nisfu Sya'ban hingga Ramadhan. (HR At-Tahawi)

    di hadits lain justru sebaliknya :

    Dari Aisyah ra. berkata, "Bulan yang paling disukai Rasulullah SAW untuk berpuasa adalah bulan sya'ban. Bahkan beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan."

    Dari Aisyah ra. berkata, "Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih berpuasa dari pada di bulan Sya''ban."

    bagaimana ustadz, mohon penjelasanya. makasih

    BalasHapus
  4. @ pak anonim
    tidak perlu bingung pak, tidak ada yg kontradiktif kok..
    begini, larangan puasa setelah sya'ban itu bagi orang yg sebelumnya selama bulan sya'ban (sebelum setengah sya'ban) tidak pernah puasa atau orang yg tidak terbiasa puasa, tp memulai puasa setelah lewat separo sya'ban. adapun bagi orang yg udah puasa sebelum pertengahan sya'ban, tak mengapa dia puasa terus hingga akhir sya'ban, kapan pun dia mau.

    betul, nabi puasa sunnah yg paling banyak adalah pada bulan sya'ban. dan karena pada akhir sya'ban beliau juga puasa, maka aisyah menggambarkannya seolah-olah menyambungnya dengan ramadhan. tp sebetulnya terpisah antara puasa sunnah sya'ban dan puasa wajib ramadhan. cuma waktunya aja yg bersambungan.
    wallahu a'lam.

    BalasHapus
  5. syukran ustadz, kini saya mengerti dan lega, jazakallah jawabannya.

    BalasHapus