Kamis, 22 Juli 2010

Menjauhi Hasad

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Saat sedang duduk-duduk bersama para sahabat, Rasulullah Saw bersabda, “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni surga.” Lalu, muncullah seorang sahabat dari Anshar, di janggutnya masih tersisa air bekas wudhu.

Esoknya, di saat yang sama, kembali Nabi bersabda seperti hari sebelumnya. Dan, kembali laki-laki itu yang muncul dengan kondisi seperti kemarin. Demikian berlanjut hingga tiga hari berturut-turut, di mana sahabat Anshar tersebut dikatakan oleh Nabi sebagai penghuni surga.

Karena penasaran, Abdullah bin Amr mengikuti orang tersebut. Dia mengatakan bahwa dirinya sedang ada masalah dengan sang ayah (Amr bin Ash), untuk itu dia mohon izin jika diperkenankan akan tinggal bersamanya selama tiga hari. Orang itu pun mengizinkan.

Tiga hari berlalu, Abdullah tidak melihat ada keistimewaan dalam amal ibadah tuan rumah, bahkan shalat malam pun tidak dilakukannya. Abdullah kecewa karena tidak melihat ada kelebihan apa pun yang membuat orang ini begitu mulia di sisi Allah, selain kesantunannya dalam bicara. Bahkan, Abdullah mengaku sempat meremehkan amalan sahabat ini.

Akhirnya, Abdullah pun pamit. Dia berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya antaraku dan ayahku tidak ada masalah serius. Sesungguhnya aku ini penasaran karena Nabi Saw menyebutmu tiga hari berturut-turut sebagai penghuni surga. Aku pun mencari-cari alasan agar bisa menginap di rumahmu. Aku ingin tahu amalan apa yang membuatmu demikian mulia, sehingga aku bisa menirumu. Tetapi, aku tidak melihat ada keistimewaan apa pun dalam amalmu.”

Orang itu berkata, “Ya begitulah, tidak ada yang berlebih dalam amalku sebagaimana yang engkau lihat.” Abdullah pun pergi. Sejenak kemudian, oran g itu memanggil. Dia berkata, “Sebetulnya amalanku itu sebagaimana yang engkau lihat. Hanya saja, aku ini sama sekali tidak pernah berprasangka buruk kepada orang lain dan tidak pernah iri sedikit pun terhadap nikmat apa pun yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.”

Abdullah bin Amr berkata, “Sungguh, inilah dia keutamaanmu yang menjadikanmu demikian mulia di sisi Allah. Dan ini pula yang tidak sanggup kami lakukan.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Saling menjatuhkan, menjelekkan, menjegal, menelikung, mencemarkan nama baik, dan berbagai sifat buruk duniawi lainnya tak lepas dari sifat hasad atau iri hati ini. Tak mudah memang menghilangkan hasad dari dalam diri. Wajar, jika begitu besar keutamaan jiwa yang tak berhasad, sehingga mengalahkan keutamaan amalan lain.

Dalam Ihya` ‘Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menyebutkan tujuh sebab munculnya sifat hasad. Yang pertama, kebencian dan permusuhan; kedua, merasa diri lebih mulia; ketiga, sombong; keempat, takjub atau heran (heran kenapa orang lain bisa begitu, sementara orang itu sama saja dengan dirinya; kelima, takut ada pesaing yang bisa menggagalkan tujuannya; keenam, demam jabatan dan gandrung kedudukan; dan ketujuh, hati yang kotor.

Adapun obatnya, masih menurut Al-Ghazali, ada dua. Yang pertama, yaitu ilmu yang bermanfaat, dan yang kedua adalah amal yg bermanfaat. Berkaitan dengan yang kedua, Al-Ghazali menjelaskan, saat muncul hasad kita pada seseorang, hendaknya kita memujinya dan mendoakannya dengan kebaikan. Dengan demikian, semakin sering seseorang berbuat baik pada orang yang “dihasadinya”, diharapkan rasa hasad itu akan hilang dan berganti menjadi rasa cinta.

Sungguh, betapa damainya hidup ini jika setiap kita menanggalkan hasadnya. Tak perlu lagi hasad dengan pangkat, jabatan, ketokohan, kekayaan, dan popularitas orang lain. Orang bijak berkata, “Tiada orang yang lebih menderita di dunia ini selain pendengki. Dia melihat kenikmatan orang lain laksana musibah baginya.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

* * *

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar