Kamis, 05 Agustus 2010

Tidak Puasa Ramadhan Salah Satu Penyebab Kekurangan Perempuan dalam Agama


Oleh: Abduh Zulfidar Akaha
           
            Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ قَالَ أَمَّا نُقْصَانِ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الْعَقْلِ وَتَمْكُثُ اللَّيَالِيَ مَا تُصَلِّي وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الدِّينِ .
            “Hai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, sesungguhnya aku melihat kalian adalah mayoritas penghuni neraka.” Salah seorang perempuan cerdas di antara mereka berkata, “Memangnya apa salah kami, wahai Rasulullah, sehingga menjadi mayoritas penghuni neraka?”
            Nabi bersabda, “Kalian sering melaknat dan mengingkari suami. Aku tidak melihat orang yang memiliki akal tetapi akal dan agamanya kurang selain kalian.” Perempuan itu berkata, “Apa itu tanda kurangnya akal dan agama?”
Nabi bersabda, “Tanda kurangnya akal yaitu kesaksian dua orang perempuan yang sama dengan kesaksian seorang laki-laki. Ini tanda kurangnya akal. Perempuan juga melalui beberapa malam tanpa shalat dan berbuka di bulan Ramadhan. Ini adalah kurangnya agama.”

Takhrij
Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari Muhammad bin Rumh dari Al-Laits bin Sa’ad dari Yazid bin Abdillah bin Al-Had dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhuma, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.[1]
            Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah (3993), Abu Dawud (4059), Ahmad (5091), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (29), Ath-Thahawi (2290),[2] dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (798), dan Ibnu Mandah dalam Al-Iman (678); dari Ibnu Umar.

Hikmah dan Ibrah
-          Banyak bersedekah dan istighfar (memohon ampun kepada Allah) bisa menghapuskan dosa seseorang.
-          Nabi melihat perempuan mayoritas penghuni neraka pada saat isra` mi’raj. Bisa juga diperlihatkan oleh Allah kepada Nabi-Nya ketika di Madinah.
-          Tidak semua perempuan kurang akalnya. Banyak juga perempuan yang cerdas, pandai, dan kritis, seperti perempuan yang bertanya kepada Nabi dalam hadits ini.
-          Penyebab perempuan banyak yang masuk ke dalam neraka bukan karena faktor kurangnya akal dan agama, melainkan karena sikap buruk mereka terhadap suami. Banyak perempuan yang sering membantah dan bersikap kasar terhadap suami, serta tidak tahu berterima kasih kepada suami.
-          Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
وَأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ .
“Diperlihatkan neraka kepadaku, maka aku tidak melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada hari itu. Aku melihat mayoritas penghuninya adalah perempuan.” Mereka bertanya, “Dikarenakan apa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Dengan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Kata Nabi, “Mereka kufur kepada suami. Mereka mengingkari kebaikannya. Jika selama ini kamu berbuat baik kepada istri, kemudian dia melihat sesuatu darimu yang tidak disukainya, dia berkata; ‘Aku tidak melihat ada kebaikan sedikit pun pada dirimu’.”[3]
-          Kufrul ‘asyir (Tidak tahu berterima kasih kepada suami) adalah salah satu jenis kekufuran. Namun ia tidak sampai membawa pelakunya kepada kufur (kafir) yang sesungguhnya. Para ulama biasa menyebutnya sebagai “kufrun duna kufrin,” yang artinya “kekafiran di bawah kekafiran,” atau sikap kufur yang derajatnya masih di bawah sikap kufur kepada Allah.
-          Perempuan menjadi mayoritas penghuni neraka karena jumlah perempuan memang lebih banyak daripada laki-laki. Bukan karena mereka adalah perempuan. Hal ini kurang lebih sama dengan mayoritas orang fakir/miskin yang menjadi mayoritas penghuni surga.[4] Mereka masuk surga bukan karena kefakirannya, namun karena jumlah orang fakir memang jauh lebih banyak daripada orang kaya, baik laki-laki maupun perempuan. Orang fakir yang bergelimang maksiat dan durhaka kepada Allah, tetap saja masuk neraka. Sebaliknya, seorang perempuan shalihah yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berbakti kepada suami, tentu surga adalah tempat kembalinya kelak di akhirat.
-          “Perempuan juga melalui beberapa malam tanpa shalat dan berbuka di bulan Ramadhan,” adalah fitrah perempuan. Ketika sedang haid dan nifas, perempuan memang tidak boleh shalat dan puasa. Itulah makanya, Nabi menganjurkan wanita muslimah agar memperbanyak sedekah dan istighfar. Sebab, sedekah dan istighfar tetap boleh dilakukan pada saat haid dan nifas. Dan, dengan sedekah dan istighfar pula, seorang perempuan bisa menutupi kekurangannya dan menghapus dosa-dosanya; baik itu yang berkaitan dengan sikapnya terhadap suami, maupun kewajibannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

*   *   *


[1] Shahih Muslim/Kitab Al-Iman/Bab Bayan Nuqshan Al-Iman bi Muqshan Ath-Tha’at/hadits nomor 250.
[2] Setelah meriwayatkan hadits ini, Ath-Thahawi berkata, “Kami juga mendapatkan hadits Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang maknanya sama dengan hadits Ibnu Umar ini.”
[3] HR. Al-Bukhari (993) dan Muslim (1512) dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma.
[4] Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku menengok ke dalam surga, ternyata mayoritas penghuninya adalah orang-orang fakir.” (Muttafaq Alaih dari Ibnu Abbas)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar