Jumat, 12 November 2010

Di Antara Sebab Tidak Dikabulkannya Do'a

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Adalah Ibrahim bin Adham rahimahullah (w. 162 H), seorang ulama yang terkenal dengan kezuhudan dan ibadahnya, suatu hari ketika beliau sedang berjalan-jalan di pasar Basrah, orang-orang mengerumuninya dan bertanya, “Wahai Abu Ishaq – panggilan Ibrahim bin Adham–, sudah sejak lama kami memanjatkan do’a kepada Allah, tetapi mengapa do’a-do’a kami tidak dikabulkan? Padahal Dia telah berfirman dalam kitab-Nya; ‘Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’a kalian’.[1]” Beliau menjawab, “Hal itu dikarenakan hati kalian telah mati dengan sepuluh perkara berikut:

Jumat, 08 Oktober 2010

16 Adab Berdoa

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

 

Pertama: Menjauhkan diri dari hal-hal yang haram

            Berdo’a adalah meminta. Tidak mungkin permintaan kita akan dipenuhi oleh orang yang kita minta bantuannya jika kita sering melakukan perbuatan yang tidak disukainya. Atau, tidak mungkin permintaan seorang bawahan akan dipenuhi atasannya jika dia adalah seorang yang sering melanggar peraturan. Demikian pula halnya dengan berdo’a kepada Allah. Allah pun enggan mengabulkan do’a hamba-Nya yang sering melakukan perbuatan maksiat dan melanggar aturan-Nya. Untuk itu, sudah seharusnya apabila kita ingin do’a kita dikabulkan oleh Allah, kita mesti senantiasa menaati segala peraturan-Nya, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi apa pun yang Dia larang.

Jumat, 24 September 2010

Sikap Kritis Syaikh Al-Izz bin Abdissalam Terhadap Penguasa

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Pada masa akhir keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah, banyak para budak yang menjadi bebas dengan sendirinya dikarenakan tuan-tuannya yang meninggal atau melarikan diri. Di antara para budak tersebut, banyak yang berasal dari Turki atau biasa disebut sebagai “al-atrak,” yang artinya orang-orang Turki. Namun, yang menjadi masalah adalah, banyak di antara orang-orang Turki yang mantan budak ini yang menjadi pejabat pemerintahan di bawah kekuasaan Sultan Najmuddin Ayub di Mesir. Dan kebetulan ketika itu yang menjadi qadhi qudhah (semacam Ketua Mahkamah Agung – sekarang) di Mesir adalah Syaikh Al-Izz bin Abdissalam, yang terkenal dengan sebutan “sulthanul ulama” atau pemimpin para ulama. Beliau digelari demikian karena dikarenakan ketinggian ilmunya dan sikapnya yang sering mewakili para ulama pada zamannya, termasuk sikap kritis beliau terhadap penguasa.

Kamis, 23 September 2010

Keras (P)Ada Saatnya

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

“Seorang perempuan disiksa dalam neraka karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan.” (Muttafaq ‘Alaih dari Ibnu Umar RA)

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Agama penuh kasih sayang. Agama yang sarat dengan ajaran cinta dan budi pekerti. Islam mengajarkan umatnya agar saling mengasihi satu sama lain. Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang mengasihi sesama, dia akan dikasihi oleh Allah. Kasihilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan mengasihi kalian.” (HR. At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Amr RA)
Jangankan terhadap sesama manusia, bahkan terhadap binatang pun Islam mengajarkan agar memperlakukannya dengan baik. Disebutkan dalam sebuah hadits shahih, bahwa para sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa mendapatkan pahala karena berbuat baik terhadap binatang?” Rasulullah menjawab, “Berbuat baik terhadap setiap makhluk hidup itu akan memperoleh pahala.” (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah RA).

Rabu, 22 September 2010

Memuji Diri Sendiri

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

“Apabila kamu melihat orang yang suka memuji,  maka
 taburkanlah debu di mukanya.” (HR Muslim)

Ketika Khalifah Hisyam bin Abdil Malik berada di Makkah, dia menyuruh pengawalnya untuk mendatangkan seorang sahabat. Sang pengawal berkata, “Mereka semua telah tiada, wahai Amirul Mukminin.” Hisyam berkata, “Kalau begitu, datangkan saja tabi’in.” Maka, dipanggillah Thawus Al-Yamani yang kebetulan ada di Makkah.
            Thawus pun datang memenuhi panggilan Khalifah. Thawus berkata, “Assalamu ‘alaika ya Hisyam (Keselamatan atasmu, hai Hisyam).” Thawus tidak memberikan salam Amirul Mukminin kepada Khalifah. Bahkan, Thawus juga tidak menyertakan gelar apa pun untuk Khalifah. “Bagaimana kabarmu, hai Hisyam?” tanya Thawus.

Kamis, 02 September 2010

Zakat Fitrah Pelengkap Puasa Ramadhan


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

            Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata,
        أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ .
            “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas orang-orang sebanyak satu sha’ korma atau satu sha’ tepung atas setiap orang merdeka atau budak, baik laki-laki maupun perempuan dari kaum muslimin.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari Abdullah bin Maslamah dan Qutaibah bin Said dari Malik bin Anas; juga dari Yahya binYahya dari Imam Malik dari Nafi’ maula Ibnu Umar dari Malik bin Anas; dari Nafi’ maula Ibnu Umar dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma.[1]

Selasa, 31 Agustus 2010

Puasa & Lebaran Bisa Berbeda Hari di Negeri yang Berbeda


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

          Muhammad bin Abi Harmalah menceritakan dari Kuraib bin Abi Muslim (w. 98 H),
أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَىَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلاَلَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِى آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلاَلَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ. فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ. فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ. فَقُلْتُ أَوَلاَ تَكْتَفِى بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم .
            Bahwa Ummul Fadhl binti Al-Harits[1] mengutusnya untuk menemui Muawiyah di Syam. Kuraib berkata, “Ketika sampai di Syam, aku pun menyelesaikan keperluan Ummul Fadhl. Dan saat masuk Ramadhan, aku masih di Syam. Aku melihat bulan (hilal) pada malam Jum’at. Kemudian, pada akhir Ramadhan, aku telah datang kembali di Madinah. Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma menanyakan kabarku dan menyinggung soal hilal. Dia berkata; ‘Kapan kalian melihat hilal?’

Senin, 30 Agustus 2010

Kelemahan Hadits Puasa Membuat Sehat


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
اغْزُوا تَغْنَمُوا ، وَصُومُوا تَصِحُّوا ، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا .
            “Berperanglah, kalian akan mendapatkan ghanimah. Puasalah, kalian akan sehat. Dan bepergianlah, kalian akan merasa cukup.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Ath-Thabarani dalam Al-Awsath (8547), Ibnu Asakir (4209), dan Al-Uqaili dalam Adh-Dhu’afa` Al-Kabir (641), dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu.
Dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Nahsyal bin Said An-Naisaburi) dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma.

Nabi I’tikaf 20 Hari Pada Ramadhan Terakhir

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha


            Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا .
            “Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam i’tikaf sepuluh hari setiap bulan Ramadhan. Tetapi, pada tahun di mana beliau meninggal, beliau i’tikaf dua puluh hari.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Abi Syaibah dari Abu Bakr bin Ayyasy dari dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu.[1]
            Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (2110), At-Tirmidzi (732), Ibnu Majah (1760), Ahmad (8081), An-Nasa`i dalam Al-Kubra (3343), Al-Hakim (1553), Ibnu Hibban (3733), Ibnu Khuzaimah (2033), Abd bin Humaid (183), Al-Baihaqi dalam Al-Ma`rifah (2764), Ath-Thayalisi (549), dan Al-Bagahawi (1856); dari Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu 'Anhum.

Jumat, 27 Agustus 2010

Kelemahan Hadits Pulang dari Jihad Kecil ke Jihad Besar

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ . قَالُوْا وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ ؟ قَالَ جِهَادُ الْقَلْبِ .
            “Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Mereka berkata, “Apakah jihad yang lebih besar itu? Kata Nabi, “Jihad hati.”

Takhrij
            HR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd (384) dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (Bab Al-Wawi/Dzikr Al-Asma` Al-Mufradah) dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhuma. Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal (biografi Ibrahim bin Abi Ablah Al-Adawi/210) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (biografi Ibrahim bin Abi Ablah); dari Ibrahim bin Abi Ablah.

Nabi I’tikaf Sepuluh Hari Terakhir Setiap Ramadhan

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha


            Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘Anha berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ .
            “Bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam i’tikaf pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan Allah. Kemudian, istri-istri beliau beri’tikaf sesudahnya.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Yusuf dari Al-Laits bin Sa’ad dari Uqail bin Khalid dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Urwah bin Az-Zubair dari Aisyah Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.[1]
            Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (2841), Ahmad (23472), An-Nasa`i dalam Al-Kubra (3336), Ad-Daraquthni (2388), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (3802), dan Al-Baghawi (1854); juga dari Aisyah. Sebagian imam lain meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma.

(hukum) wisata kuliner, bukan tidak boleh, tapi jika berlebihan tidak baik

Hikmah jelang siang: (hukum) wisata kuliner, bukan tidak boleh, tapi jik a berlebihan tidak baik ' ada yg bertanya via WA ttg ha...