Selasa, 31 Agustus 2010

Puasa & Lebaran Bisa Berbeda Hari di Negeri yang Berbeda


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

          Muhammad bin Abi Harmalah menceritakan dari Kuraib bin Abi Muslim (w. 98 H),
أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَىَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلاَلَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِى آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلاَلَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ. فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ. فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ. فَقُلْتُ أَوَلاَ تَكْتَفِى بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم .
            Bahwa Ummul Fadhl binti Al-Harits[1] mengutusnya untuk menemui Muawiyah di Syam. Kuraib berkata, “Ketika sampai di Syam, aku pun menyelesaikan keperluan Ummul Fadhl. Dan saat masuk Ramadhan, aku masih di Syam. Aku melihat bulan (hilal) pada malam Jum’at. Kemudian, pada akhir Ramadhan, aku telah datang kembali di Madinah. Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma menanyakan kabarku dan menyinggung soal hilal. Dia berkata; ‘Kapan kalian melihat hilal?’

Senin, 30 Agustus 2010

Kelemahan Hadits Puasa Membuat Sehat


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
اغْزُوا تَغْنَمُوا ، وَصُومُوا تَصِحُّوا ، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا .
            “Berperanglah, kalian akan mendapatkan ghanimah. Puasalah, kalian akan sehat. Dan bepergianlah, kalian akan merasa cukup.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Ath-Thabarani dalam Al-Awsath (8547), Ibnu Asakir (4209), dan Al-Uqaili dalam Adh-Dhu’afa` Al-Kabir (641), dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu.
Dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Nahsyal bin Said An-Naisaburi) dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma.

Nabi I’tikaf 20 Hari Pada Ramadhan Terakhir

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha


            Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا .
            “Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam i’tikaf sepuluh hari setiap bulan Ramadhan. Tetapi, pada tahun di mana beliau meninggal, beliau i’tikaf dua puluh hari.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Abi Syaibah dari Abu Bakr bin Ayyasy dari dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu.[1]
            Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (2110), At-Tirmidzi (732), Ibnu Majah (1760), Ahmad (8081), An-Nasa`i dalam Al-Kubra (3343), Al-Hakim (1553), Ibnu Hibban (3733), Ibnu Khuzaimah (2033), Abd bin Humaid (183), Al-Baihaqi dalam Al-Ma`rifah (2764), Ath-Thayalisi (549), dan Al-Bagahawi (1856); dari Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu 'Anhum.

Jumat, 27 Agustus 2010

Kelemahan Hadits Pulang dari Jihad Kecil ke Jihad Besar

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ . قَالُوْا وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ ؟ قَالَ جِهَادُ الْقَلْبِ .
            “Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Mereka berkata, “Apakah jihad yang lebih besar itu? Kata Nabi, “Jihad hati.”

Takhrij
            HR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd (384) dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (Bab Al-Wawi/Dzikr Al-Asma` Al-Mufradah) dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhuma. Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal (biografi Ibrahim bin Abi Ablah Al-Adawi/210) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (biografi Ibrahim bin Abi Ablah); dari Ibrahim bin Abi Ablah.

Nabi I’tikaf Sepuluh Hari Terakhir Setiap Ramadhan

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha


            Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘Anha berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ .
            “Bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam i’tikaf pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan Allah. Kemudian, istri-istri beliau beri’tikaf sesudahnya.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Yusuf dari Al-Laits bin Sa’ad dari Uqail bin Khalid dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Urwah bin Az-Zubair dari Aisyah Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.[1]
            Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (2841), Ahmad (23472), An-Nasa`i dalam Al-Kubra (3336), Ad-Daraquthni (2388), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (3802), dan Al-Baghawi (1854); juga dari Aisyah. Sebagian imam lain meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma.

Kamis, 26 Agustus 2010

Nuzulul Qur`an Bukan Pada Malam 17 Ramadhan


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha
            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ الإِنْجِيلُ لِثَلاثَ عَشْرَةَ مَضَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ الزَّبُورُ لِثَمَانَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ .         
            “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari keenam Ramadhan. Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadhan. Zabur diturunkan pada tanggal delapan belas Ramadhan. Dan Al-Qur`an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadhan.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabarani Al-Lakhami rahimahullah (w. 360 H) dari Ali bin Abdil Aziz dari Abdullah bin Raja` dari Imran Al-Qaththan dari Qatadah bin Di’amah dari Abul Malih bin Usamah dari Watsilah bin Al-Asqa’ Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.[1]

Rabu, 25 Agustus 2010

Seputar Hadits Doa Buka Puasa


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

                Doa puasa yang sering kita dengar bahkan mungkin juga sering kita baca, adalah:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ .
“Ya Allah, untuk-Mu aku puasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Hilanglah rasa dahaga, tenggorokan pun basah, dan sudah pasti berpahala jika Allah menghendaki.”

Catatan
                Doa buka puasa yang masyhur ini adalah gabungan dari dua hadits, yaitu:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ .
dan,
 ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ .
Adapun kalimat “ وَبِكَ آمَنْتُ ” adalah tambahan yang sama sekali tidak ada dasarnya, meski maknanya bagus.

Panjang Bacaan Nabi dalam Shalat Malam Pada Bulan Ramadhan


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

            Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘Anhu berkata,
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَقَامَ يُصَلِّي فَلَمَّا كَبَّرَ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ ذُو الْمَلَكُوتِ وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ قَرَأَ الْبَقَرَةَ ثُمَّ النِّسَاءَ ثُمَّ آلَ عِمْرَانَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ تَخْوِيفٍ إِلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا ثُمَّ رَكَعَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ مِثْلَ مَا كَانَ قَائِمًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِثْلَ مَا كَانَ قَائِمًا ثُمَّ سَجَدَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى مِثْلَ مَا كَانَ قَائِمًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي مِثْلَ مَا كَانَ قَائِمًا ثُمَّ سَجَدَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى مِثْلَ مَا كَانَ قَائِمًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَامَ فَمَا صَلَّى إِلَّا رَكْعَتَيْنِ حَتَّى جَاءَ بِلَالٌ فَآذَنَهُ بِالصَّلَاةِ .
            “Aku mendatangi Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada suatu malam di bulan Ramadhan. Maka, beliau pun berdiri untuk shalat. Ketika takbir, beliau membaca; ‘Allaahu akbar, dzul malakuuti wal jabaruuti wa kibriyaa`i wal ‘azhamah.’[1] Kemudian beliau membaca surat Al-Baqarah, lalu surat An-Nisa`, lalu Ali Imran. Beliau tidak melalui ayat ancaman melainkan berhenti sejenak. Kemudian beliau ruku’. Beliau membaca; ‘Subhaana Rabbiyal ‘Azhiim’[2] (yang lamanya) seperti saat berdiri. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan membaca; ‘Sami’allaahu liman hamidah, rabbanaa lakal hamd,’[3] seperti saat berdiri. Kemudian beliau sujud dan membaca; ‘Subhaana Rabbiyal a’laa,’[4] seperti saat berdiri. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan membaca; ‘Rabbighfirlii,’[5] sama seperti ketika berdiri (lamanya). Kemudian beliau sujud lagi. Beliau membaca; ‘Subhaana Rabbiyal a’laa,’ seperti saat berdiri. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan berdiri. Beliau tidak shalat selain hanya dua rakat sampai datang Bilal yang mengumandangkan adzan untuk shalat.”

Selasa, 24 Agustus 2010

Kelemahan Hadits Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادضةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مَضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ .
“Tidur orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya mustajab, dan dosanya diampuni.”

Takhrij

Kafarat Orang yang Berjima’ di Bulan Ramadhan


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

            Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata,
أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ هَلَكْتُ قَالَ وَلِمَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى أَهْلِي فِي رَمَضَانَ قَالَ فَأَعْتِقْ رَقَبَةً قَالَ لَيْسَ عِنْدِي قَالَ فَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ فَأَطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا أَجِدُ فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ فَقَالَ أَيْنَ السَّائِلُ قَالَ هَا أَنَا ذَا قَالَ تَصَدَّقْ بِهَذَا قَالَ عَلَى أَحْوَجَ مِنَّا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ قَالَ فَأَنْتُمْ إِذًا .
            “Seorang laki-laki mendatangi Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dia berkata; ‘Celaka aku.’ Nabi berkata; ‘Memangnya kenapa?’ Laki-laki itu berkata, ‘Aku telah menggauli istriku pada bulan Ramadhan.” Kata Nabi; ‘Kalau begitu, bebaskanlah budak.’ Orang itu berkata; ‘Aku tidak punya.’ Kata Nabi; ‘Puasalah dua bulan berturut-turut.’ Orang itu berkata; ‘Aku tidak sanggup.’ Kata Nabi; ‘Beri makan saja enam puluh orang miskin.’ Orang itu berkata; ‘Aku tidak mendapatkan.’ Tahu-tahu ada yang datang membawa sekeranjang berisi penuh korma untuk Nabi. Nabi bertanya; ‘Mana orang yang bertanya tadi?’ Orang itu berkata; ‘Ini Aku.’ Nabi bersabda; ‘Bersedekahlah dengan korma ini.’ Orang itu berkata; ‘Bersedekah kepada orang yang lebih membutuhkan dari kami, wahai Rasulullah? Demi yang mengutusmu dengan haq; di kampung kami, tidak ada orang yang lebih membutuhkan daripada kami.’ Maka. Nabi pun tertawa hingga tampak gigi taringnya. Beliau berkata; ‘Kalau begitu, ambil saja untukmu’.”

Senin, 23 Agustus 2010

Kelemahan Hadits Ramadhan Dibagi Tiga: Rahmat, Ampunan, dan Pembebasan dari Neraka

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ .
“Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka.”

Takhrij
Hadits ini diriwayatkan Imam Ibnu Abi Ad-Dunia dalam Fadha`il Ramadhan (37), Al-Uqaili dalam Adh-Dhu’afa` Al-Kabir (750), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (3146), dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (3/311), dan Al-Baghdadi dalam Al-Muwadhdhah (Bab Huruf Sin, biografi Saif bin Wahab); dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu. Dan Al-Mahamili dalam Al-Amali (287) dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'Anhu.

Derajat Hadits: Dha’if Jiddan
Ibnu Hajar mendha’ifkan hadits ini dalam Lisan Al-Mizan pada biografi Maslamah bin Ash-Shult.
Adz-Dzahabi mendha’ifkan hadits ini dalam Mizan Al-I’tidal (3446).
Al-Huwaini berkata, “Ini adalah hadits batil.” [1]
Dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (1569), Al-Albani berkata, “Hadits mungkar.” Dan dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shaghir (4944), Al-Albani mengatakan; Dha’if jiddan (lemah sekali).

*   *   *


[1] Al-Fatawa Al-Haditsiyah/Jilid 1/Hlm 291. Program Al-Maktabah Asy-Syamilah.

(hukum) wisata kuliner, bukan tidak boleh, tapi jika berlebihan tidak baik

Hikmah jelang siang: (hukum) wisata kuliner, bukan tidak boleh, tapi jik a berlebihan tidak baik ' ada yg bertanya via WA ttg ha...