Rabu, 09 Februari 2011

Republik Bohong; Hikayat Bangsa yang Senang Ditipu

Harga : Rp. 54.000,-
Diskon : 25% + ongkos kirim
Tebal : 344 halaman
Cetakan I, Februari 2011


Daftar Isi

Pengantar Penerbit ––– v
Pengantar Penulis ––– ix

Kalam Pembuka ––– 1

Para Ahli Bicara tentang Indonesia ––– 7
Apakah Karena Kutukan Allah? ––– 8
Puisi: “Negeri Para Bedebah” ––– 13
Serigalakan Bangsa Ini ––– 15
Syair Taufiq Ismail ––– 22
Siapa Kita? ––– 28
Membuka Topeng “Negara Gagal” ––– 32
Dana 26 Juta Dollar dari Amerika  ––– 35
DPR Cukup Efektif  ––– 39
Indonesia Dihancurkan IMF  ––– 44
Pandangan Prof. Mahfudh MD.  ––– 51
Bangsa Muslim, Tetapi Hobi Klenik ––– 54

Rakyat Indonesia Mudah Ditipu ––– 71
Bangsa Sakit Seharga “180 M”  ––– 72
Nasib Ngenes Kompor BPPT ––– 80
Pengkhianatan Para Pengamat Ekonomi  ––– 84
Kebohongan Publik di Balik Bailout Bank Century  ––– 93
Kebohongan Menteri Perekonomian! ––– 105
AC Manullang: “Penangkapan Ba’asyir adalah Grand
Strategy Amerika Serikat” ––– 116
Kronologi Peristiwa Terorisasi di Aceh ––– 123
Keanehan Fenomena Terorisme di Indonesia  ––– 127
Ofensif kepada Islam  ––– 128
Desain Kasus Teror ––– 130
Indonesia Sebagai Target  ––– 134
Makna Isu Terorisme  ––– 136
Penipuan Terbesar Abad 21 ––– 138
Siapa Patriot NKRI? ––– 142
Ide Perang Indonesia Vs Malaysia ––– 151
Antara Ustadz dan Politisi  ––– 160
Bukan Soal Keberanian ––– 161
Takut Resiko ––– 162
Masalah Kritis ––– 163
Mental Politisi  ––– 164
Orang Lemah, Jangan Ditipu!  ––– 166
Monumen Yahudi Berdiri Megah di Manado ––– 172

Membedah Akar Masalah Bangsa ––– 177
Benarkah Rakyat Indonesia Sudah Cerdas? ––– 178
Karakter Minder Bangsa Kita ––– 186
Sejarah Bangsa Minder  ––– 187
Minder Secara Kultural  ––– 194
Menegakkan Syahadat  ––– 197
Mengapa Shaum Kita Gagal?  ––– 200
Dominasi Islam Mataram  ––– 205
Sebab Kejayaan Bangsa  ––– 206
Islam Versi Mataram  ––– 208
Islam Orang Indonesia ––– 210
Islam Bercampur Kemusyrikan ––– 213
Semua Teori Sia-sia  ––– 215
Tradisi Kita, Melanggar Hukum! ––– 217
Realitas Penjajahan Baru di Indonesia  ––– 224
Mengapa Masyarakat Tidak Menghargai Dakwah Islam?.... 234
Lima Penyakit Bangsa ––– 243
Islam dan Isu Kebangsaan  ––– 249

Problema Bangsa dan Solusi Islam ––– 259
Mengapa Islam Selalu Dibenci? ––– 260
Keagungan Ajaran Islam ––– 266
Antara Syariat Islam dan NKRI ––– 278
Kesamaan Akar Historis  ––– 278
Membantah Fitnah Keji  ––– 280
Trauma Gerakan DI/TII Sebagai Gerakan Politik  ––– 284
Apakah Bangsa Indonesia Jujur?  ––– 287
Pertanyaan Menggelitik  ––– 290
Kearifan Konsep Piagam Jakarta ––– 294
Apakah Hukum Islam Kejam? ––– 305
Menilai Keadilan Hukum  ––– 309
Kenangan Perjalanan Umrah ––– 314
Penutup: Bangsa Kita Termakan Fitnah ––– 323

Tentang Penulis ––– 330

Rabu, 02 Februari 2011

Sikap Kaum Muslimin Terhadap Pemerintahan Yang Sah


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

[Dinukil seperlunya dari buku kami: “Siapa Teroris? Siapa Khawarij?” hlm 229-238; menanggapi permintaan/ pertanyaan terkait kasus di Tunisia dan Mesir]

… … Baiklah, kita kembali lagi ke masalah sikap kaum muslimin terhadap penguasa atau pemerintahan yang sah. Secara ringkas, ada tiga macam sikap dalam hal ini. Yang pertama; yaitu dalam rangka dakwah amar makruf nahi mungkar dan saling memberikan nasehat kebenaran kepada saudara sesama muslim. Kedua memberontak kepada pemerintahan zhalim yang tidak mempedulikan ajaran Islam, suka berbuat maksiat, dan membawa banyak mafsadat bagi umat Islam. Dan ketiga, yaitu memberontak kepada pemerintahan yang sah karena hendak merebut kekuasaan, atau yang biasa dikenal sebagai kudeta (al-inqilab).
Sikap yang pertama, adalah sikap yang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap muslim sebatas kemampuannya. Dan, sesungguhnya hal ini tidak hanya berlaku terhadap penguasa saja, melainkan juga terhadap orang lain selain penguasa, terhadap keluarga, saudara, dan umat Islam secara umum, bahkan terhadap diri sendiri. Banyak dalil-dalil dari Al-Qur`an Al-Karim dan Sunnah Nabi dalam hal ini. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ .
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-Nahl: 125)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ . (الحديث)
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya. Dan bila masih tidak sanggup, maka dengan hatinya. Dan itu adalah iman yang paling lemah.” (Al-Hadits)[1]
Lebih khusus lagi, dalam masalah amar makruf nahi mungkar terhadap penguasa adalah sabda Nabi ketika ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Jihad apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,
كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ . (الحديث)
“Mengatakan kebenaran di hadapan penguasa lalim.” (Al-Hadits)[2]
Dalam hadits di atas, jelas-jelas disebutkan bahwa mengatakan kebenaran di hadapan penguasa lalim adalah suatu jihad yang paling utama. Bagaimana mungkin seorang yang mengamalkan ajaran Islam dalam hal ini dicap sebagai pemberontak alias khawarij alias teroris? Jangankan terhadap penguasa yang zhalim, terhadap penguasa yang adil sekalipun, dakwah dan amar makruf nahi mungkar tetap harus ditegakkan. Lihatlah, betapa para Khulafa`ur Rasyidin sangat terbuka terhadap nasehat dan kritik yang ditujukan kepada mereka. Bahkan, mereka sangat mengharapkan adanya orang yang mau meluruskan mereka apabila mereka salah.
Sikap keras dan kritik dari kaum muslimin terhadap pemerintahannya dari dulu hingga sekarang pun tidak lepas dari koridor ini. Teramat banyak para ulama besar dalam sejarah Islam yang bersikap kritis dan tegas terhadap penguasa. Tidak sedikit di antara mereka yang harus mendapatkan konsekuensi berat atas sikap kritisnya tersebut; ada yang diusir dari negerinya, dipenjara, diintimidasi, diasingkan, disiksa, dan bahkan dibunuh (syahid) di jalan Allah. Mereka adalah para ulama yang tidak mengenal takut dalam menegakkan kebenaran apa pun konsekuensinya. Mereka meyakini sepenuhnya bahwa ini adalah jihad, bahkan merupakan jihad yang paling utama, sebagaimana yang disabdakan Nabi. Tidak ada yang mereka takuti selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kamis, 27 Januari 2011

Panduan Praktis Doa & Dzikir Sehari-hari

Harga : Rp 44.000,-
Diskon : 20% + ongkos kirim
Tebal : 274 + xxxix hlm
Cetakan ke-6, hard cover.


Sesuai judulnya, buku ini memang memuat doa-doa yang biasa dan bisa kita baca sehari-hari. Meski praktis, setiap doa (hadits) yang ditampilkan selalu disertai dengan takhrij yang lengkap. Dan, sesungguhnya masalah takhrij hadits inilah yang menjadi keprihatinan penulis. Betapa banyak buku2 doa yang dijual di berbagai toko buku, namun hanya sedikit yang menyebutkan sumber doanya. Sehingga, bukan tidak mungkin sebagian doa yang terdapat dalam buku tersebut ternyata bukan berasal dari Nabi Saw, atau berasal dari hadits yang dha'if bahkan maudhu'. 

Terbit bulan Mei 2007, dan pada Agustus 2010 telah enam kali naik cetak.

*  *  *

Doa adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Bahkan ia merupakan kebutuhan manusia yang lemah ini. Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliaulah yang mengajarkan kepada umatnya agar selalu berdoa dalam semua aktivitas. Karena hanya Allah yang memiliki segalanya. Dia akan memberi kepada yang dikehendaki-Nya. Dan dengan kemahakayaan-Nya, Dia menjanjikan pengabulan doa hamba-Nya yang meminta.

Tidak jarang kita jumpai orang yang mengeluh do'anya tak pernah dikabulkan. Hingga ada yang putus asa untuk berdoa. Pun, acap kali kita kebingungan mencari lafal do'a yang tepat guna. Terkadang kita berhasil mendapatkan lafal do'a tertentu, tetapi kita tak dapat membacanya. Atau, boleh jadi kita hafal do'a tertentu, tetapi kita tidak tahu dari mana asal-usulnya, tidak pula dipahami makna yang dikandungnya.

Dalam buku ini, Anda akan mendapati do'a dan dzikir pagi sore, dzikir setelah shalat, dan do'a-do'a dari Al-Qur'an dan Sunnah. Dilengkapi dengan pengucapan do'a dalam tulisan lain dan takhrij haditsnya, kehadiran buku ini menjadikan kita lebih percaya diri dalam berdo'a. Bukan hanya itu, masalah seputar do'a di atas pun terjawab dengan tuntas.

*   *   *

DAFTAR ISI

PENGANTAR PENERBIT................................. xiii
PENGANTAR PENULIS.................................. xvii
Manhaj Penulisan ……………………………………………  xii

BAB 1 ADAB BERDO’A.................. 1
ADAB BERDO’A................................................... 3
Pertama: Menjauhkan diri dari hal-hal yang
haram....................................................................... 3
Kedua: Ikhlas  ......................................................... 6
Ketiga: Memulai do’a dengan tahmid dan
shalawat................................................................... 7
Keempat: Berdo’a dengan do’a-do’a yang disyari’atkan    8
Kelima: Penuh kekhusyu’an, tadharru’, dan
harap-harap cemas................................................ 10
Keenam: Tidak bimbang dalam berdo’a dan
yakin Allah akan mengabulkan............................ 11
Ketujuh: Mencari saat yang tepat untuk
berdo’a.................................................................... 13
Kedelapan: Berdo’a pada kondisi yang de­kat
dengan Allah......................................................... 15
Kesembilan: Menghadap ke arah kiblat............... 19
Kesepuluh: Dengan suara yang pelan................. 20
Kesebelas: Tidak berdo’a atau mendo’akan
yang buruk............................................................. 22
Kedua belas: Mengangkat kedua tangan............. 24
Ketiga belas: Disertai taubat dan peng­akuan
dosa........................................................................ 25
Kempat belas: Tidak mengkhususkan diri
dalam do’a ketika berdo’a bersama...................... 27
Kelima belas: Mengulangi do’a hingga tiga kali.. 28
Keenam belas: Memperbanyak do’a di wak­tu lapang 
(tidak hanya saat perlu atau di­­run­dung musibah)        30

DI ANTARA SEBAB TIDAK DIKABULKAN-
NYA DO’A............................................................ 32

Rabu, 26 Januari 2011

165 Kebiasaan Nabi Saw.

Harga : Rp. 74.000,-
Diskon 20% + ongkos kirim
Tebal : 496 hlm + xxxii
Cetakan ke-11, hard cover

Dulunya buku ini berjudul 160 Kebiasaan Nabi Saw. Kemudian, setelah direvisi, saya tambah lima lagi, dan berganti judul menjadi 165 Kebiasaan Nabi Saw. Buku ini berisi tentang kebiasaan Nabi dalam masalah shalat; kebiasaan beliau pada hari Jum'at dan hari raya; kebiasaan beliau dalam hal puasa; pada bulan Ramadhan; kebiasaan dalam makan dan minum; dalam tidur; ketika bepergian; dalam dzikir dan doanya; dan berbagai kebiasaan Nabi yang lain.
Dicetak pertama kali pada Mei 2002, dan pada 2010 lalu telah naik cetak sebelas kali.


Daftar Isi  :
Pengantar Penerbit
Pengantar Penulis
MUKADDIMAH
Sekilas tentang Sunnah Nabawiyah
Manhaj Penulisan

Bab Pertama
Kebiasaan-kebiasaan Nabi Saw Sekitar Shalat
Kebiasaan Ke-1:   SELALU SHALAT SUNNAH FAJAR
Kebiasaan Ke-2:  MERINGANKAN SHALAT SUNNAH FAJAR
Kebiasaan Ke-3: MEMBACA SURAT AL-IKHLAS DAN AL-KAFIRUN DALAM SHALAT FAJAR
Ayat Lain yang Dibaca Nabi dalam Shalat Sunnah Fajar
Kebiasaan Ke-4:  BERBARING SEJENAK SETELAH SHALAT SUNNAH FAJAR
Kebiasaan Ke-5:  MENGERJAKAN SHALAT SUNNAH DI RUMAH
Kebiasaan Ke-6:  SELALU SHALAT SUNNAH EMPAT RAKAAT SEBELUM ZHUHUR
Kebiasaan Ke-7:  MENGGANTI DENGAN EMPAT RAKAAT SETELAH ZHUHUR JIKA TIDAK SEMPAT SHALAT SEBELUMNYA
Kebiasaan Ke-8:  SHALAT SUNNAH DUA ATAU EMPAT RAKAAT SEBELUM ASHAR
Kebiasaan Ke-9:  SHALAT SUNNAH DUA RAKAAT  SESUDAH MAGHRIB       
Kebiasaan Ke-10: SHALAT SUNNAH SETELAH ISYA‘
Kebiasaan Ke-11:  MENGAKHIRKAN SHALAT ISYA‘
Kebiasaan Ke-12: MEMANJANGKAN RAKAAT PERTAMA DAN MEMENDEKKAN RAKAAT KEDUA
Kebiasaan Ke-13: SELALU SHALAT MALAM
Waktu Shalat Malam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Kebiasaan Ke-14: MENGGOSOK GIGI APABILA BANGUN MALAM
Kebiasaan Ke-15: MEMBUKA SHALAT MALAM DENGAN DUA RAKAAT RINGAN
Kebiasaan Ke-16: SHALAT MALAM SEBELAS RAKAAT
Format Shalat Malam Nabi Sebelas Rakaat
Kebiasaan Ke-17: MEMANJANGKAN SHALAT MALAMNYA
Kebiasaan Ke-18: MEMBACA SURAT AL-A’LA, AL-KAFIRUN DAN AL-IKHLAS DALAM SHALAT WITIR
Kebiasaan Ke-19: MENGGANTI SHALAT MALAM DI SIANG HARI JIKA BERHALANGAN
Kebiasaan Ke-20: SHALAT DHUHA EMPAT RAKAAT
Kebiasaan Ke-21: TETAP DUDUK HINGGA MATAHARI BERSINAR SETELAH SHALAT SUBUH
Kebiasaan Ke-22: MELURUSKAN SHAF SEBELUM MULAI SHALAT JAMAAH
Kebiasaan Ke-23: MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT TAKBIRATUL IHRAM, AKAN RUKU’ DAN BANGUN DARI RUKU’
Kebiasaan Ke-24: MELETAKKAN TANGAN KANAN DI ATAS TANGAN KIRI     
Kebiasaan Ke-25: MENGARAHKAN PANDANGAN KE TEMPAT SUJUD
Kebiasaan Ke-26: MERENGGANGKAN KEDUA TANGAN KETIKA SUJUD HINGGA TAMPAK KETIAKNYA YANG PUTIH
Kebiasaan Ke-27: MEMBERI ISYARAT DENGAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHHUD DAN MENGARAHKAN PANDANGAN KE ARAH JARI TELUNJUK
Kebiasaan Ke-28: MERINGANKAN TASYAHHUD PERTAMA
Kebiasaan Ke-29: MERINGANKAN SHALAT JIKA BERJAMAAH           
Kebiasaan Ke-30: MENGHADAP KE ARAH KANAN MAKMUM SELESAI SHALAT JAMAAH     
Kebiasaan Ke-31: BERSEGERA KE MASJID BEGITU MASUK WAKTU SHALAT
Kebiasaan Ke-32: SELALU MEMPERBARUI WUDHU SETIAP KALI AKAN SHALAT
Kebiasaan Ke-33: TIDAK MENSHALATKAN JENAZAH YANG MASIH BERHUTANG
Kebiasaan Ke-34: MENANCAPKAN TOMBAK SEBAGAI PEMBATAS JIKA SHALAT DI TANAH LAPANG
Kebiasaan Ke-35: MENGAJARI SHALAT KEPADA ORANG YANG BARU MASUK ISLAM 

Bab Kedua
Kebiasaan-kebiasaan Nabi Saw di Hari Jum’at dan Dua Hari Raya

Selasa, 14 Desember 2010

Orang yang Lebih Dulu Memberi Salam

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Imam Abu Dawud Rahimahullah meriwayatkan dari Muhammad bin Yahya bin Faris Adz-Dzahli, dari Abu Ashim, dari Abu Khalid Wahab, daari Abu Sufyan Al-Himshi, dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِاللَّهِ مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلَامِ .
Sesungguhnya orang yang paling utama bagi Allah, adalah orang yang lebih dulu memberikan salam.[1]

Yang dimaksud dengan orang yang paling utama dalam hadits ini, tentu saja adalah orang yang paling baik. Sedangkan keutamaan memberi salam yang membuat orang yang melakukannya menjadi yang terbaik, adalah dikarenakan perbuatan tersebut merupakan salah satu perbuatan yang dianggap baik dalam agama Islam. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih berikut,

Jumat, 12 November 2010

Di Antara Sebab Tidak Dikabulkannya Do'a

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Adalah Ibrahim bin Adham rahimahullah (w. 162 H), seorang ulama yang terkenal dengan kezuhudan dan ibadahnya, suatu hari ketika beliau sedang berjalan-jalan di pasar Basrah, orang-orang mengerumuninya dan bertanya, “Wahai Abu Ishaq – panggilan Ibrahim bin Adham–, sudah sejak lama kami memanjatkan do’a kepada Allah, tetapi mengapa do’a-do’a kami tidak dikabulkan? Padahal Dia telah berfirman dalam kitab-Nya; ‘Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’a kalian’.[1]” Beliau menjawab, “Hal itu dikarenakan hati kalian telah mati dengan sepuluh perkara berikut:

Jumat, 08 Oktober 2010

16 Adab Berdoa

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

 

Pertama: Menjauhkan diri dari hal-hal yang haram

            Berdo’a adalah meminta. Tidak mungkin permintaan kita akan dipenuhi oleh orang yang kita minta bantuannya jika kita sering melakukan perbuatan yang tidak disukainya. Atau, tidak mungkin permintaan seorang bawahan akan dipenuhi atasannya jika dia adalah seorang yang sering melanggar peraturan. Demikian pula halnya dengan berdo’a kepada Allah. Allah pun enggan mengabulkan do’a hamba-Nya yang sering melakukan perbuatan maksiat dan melanggar aturan-Nya. Untuk itu, sudah seharusnya apabila kita ingin do’a kita dikabulkan oleh Allah, kita mesti senantiasa menaati segala peraturan-Nya, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi apa pun yang Dia larang.

Jumat, 24 September 2010

Sikap Kritis Syaikh Al-Izz bin Abdissalam Terhadap Penguasa

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Pada masa akhir keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah, banyak para budak yang menjadi bebas dengan sendirinya dikarenakan tuan-tuannya yang meninggal atau melarikan diri. Di antara para budak tersebut, banyak yang berasal dari Turki atau biasa disebut sebagai “al-atrak,” yang artinya orang-orang Turki. Namun, yang menjadi masalah adalah, banyak di antara orang-orang Turki yang mantan budak ini yang menjadi pejabat pemerintahan di bawah kekuasaan Sultan Najmuddin Ayub di Mesir. Dan kebetulan ketika itu yang menjadi qadhi qudhah (semacam Ketua Mahkamah Agung – sekarang) di Mesir adalah Syaikh Al-Izz bin Abdissalam, yang terkenal dengan sebutan “sulthanul ulama” atau pemimpin para ulama. Beliau digelari demikian karena dikarenakan ketinggian ilmunya dan sikapnya yang sering mewakili para ulama pada zamannya, termasuk sikap kritis beliau terhadap penguasa.

Kamis, 23 September 2010

Keras (P)Ada Saatnya

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

“Seorang perempuan disiksa dalam neraka karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan.” (Muttafaq ‘Alaih dari Ibnu Umar RA)

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Agama penuh kasih sayang. Agama yang sarat dengan ajaran cinta dan budi pekerti. Islam mengajarkan umatnya agar saling mengasihi satu sama lain. Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang mengasihi sesama, dia akan dikasihi oleh Allah. Kasihilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan mengasihi kalian.” (HR. At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Amr RA)
Jangankan terhadap sesama manusia, bahkan terhadap binatang pun Islam mengajarkan agar memperlakukannya dengan baik. Disebutkan dalam sebuah hadits shahih, bahwa para sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa mendapatkan pahala karena berbuat baik terhadap binatang?” Rasulullah menjawab, “Berbuat baik terhadap setiap makhluk hidup itu akan memperoleh pahala.” (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah RA).

Rabu, 22 September 2010

Memuji Diri Sendiri

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

“Apabila kamu melihat orang yang suka memuji,  maka
 taburkanlah debu di mukanya.” (HR Muslim)

Ketika Khalifah Hisyam bin Abdil Malik berada di Makkah, dia menyuruh pengawalnya untuk mendatangkan seorang sahabat. Sang pengawal berkata, “Mereka semua telah tiada, wahai Amirul Mukminin.” Hisyam berkata, “Kalau begitu, datangkan saja tabi’in.” Maka, dipanggillah Thawus Al-Yamani yang kebetulan ada di Makkah.
            Thawus pun datang memenuhi panggilan Khalifah. Thawus berkata, “Assalamu ‘alaika ya Hisyam (Keselamatan atasmu, hai Hisyam).” Thawus tidak memberikan salam Amirul Mukminin kepada Khalifah. Bahkan, Thawus juga tidak menyertakan gelar apa pun untuk Khalifah. “Bagaimana kabarmu, hai Hisyam?” tanya Thawus.

Kamis, 02 September 2010

Zakat Fitrah Pelengkap Puasa Ramadhan


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

            Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata,
        أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ .
            “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas orang-orang sebanyak satu sha’ korma atau satu sha’ tepung atas setiap orang merdeka atau budak, baik laki-laki maupun perempuan dari kaum muslimin.”

Takhrij
            Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari Abdullah bin Maslamah dan Qutaibah bin Said dari Malik bin Anas; juga dari Yahya binYahya dari Imam Malik dari Nafi’ maula Ibnu Umar dari Malik bin Anas; dari Nafi’ maula Ibnu Umar dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma.[1]

(hukum) wisata kuliner, bukan tidak boleh, tapi jika berlebihan tidak baik

Hikmah jelang siang: (hukum) wisata kuliner, bukan tidak boleh, tapi jik a berlebihan tidak baik ' ada yg bertanya via WA ttg ha...